Kutbah jumatan Dengan Tema “Menguatkan iman ditengah Musibah dan ujian Allah”
Kodi ,Sumba Barat Daya ,Ntt-News.tvalqodi.Nusantara.com 16 oktober 2026 Menguatkan iman ditengah Musibah dan ujian Allah
Oleh Muhammad.Dominggus Mone AlMughni.SHi.M.Pd.Gr
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُبْدِئِ الْمُعِيْدِ الْفَعَّالِ لِمَا يُرِيْدُ الْهَادِيْ صَفْوَةَ الْعَبِيْدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيْدِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَࣖ
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
Pada momentum ibadah Jumat ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan dan keimanan sekaligus senantiasa meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah subhanahu wata’ala yang telah menganugerahkan banyak nikmat kepada kita. Saking banyaknya nikmat yang diberikan, terkadang kita lupa tidak merawat dan mensyukurinya. Di antara nikmat itu seperti nikmat sehat, sempat, dan juga yang paling penting adalah nikmat iman dan Islam. Semua nikmat yang dianugerahkan kepada kita ini pasti tidak bisa kita hitung satu persatu.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu para nabi dan rasul sekaligus pelita kegelapan, yakni Nabi Besar Muhammad saw. Shalawat dan salam juga semoga terlimpah kepada para sahabatnya, para tabiin, para tabi’ tabiin, hingga kepada kita semua yang semoga diberi kekuatan mengikuti ajarannya, serta di akhirat kelak mendapatkan syafaatnya. Amin ya rabbal ’alamin.
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
Seperti biasa, sebelum melanjutkan khutbah ini, terlebih dahulu khatib berwasiat kepada diri pribadi dan juga kepada jamaah sekalian, marilah kita sama-sama mempertahankan sekaligus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Sebab, takwa merupakan bekal terbaik kita menghadapi kehidupan akhirat kelak, di samping sebagai perisai diri kita dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Beberapa minggu yang lalu Kita di uji Oleh dengan Yang nama gempa baik di Kodi (pulau Sumba ) dan pulau Flores
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
Allah berfirman dalam surat Az-Zalzalah 1-5 yang bunyi nya kurang lebih :
ذَا زُلۡزِلَتِ الۡاَرۡضُ زِلۡزَالَهَا
1
Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,
اَخۡرَجَتِ الۡاَرۡضُ اَثۡقَالَهَا
2
dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
وَقَالَ الۡاِنۡسَانُ مَا لَهَا
3
Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”
وۡمَٮِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخۡبَارَهَا
4
Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,
Juz Amma’ (Juz ke-30)
Tafsir Ayat ke-4
بِاَنَّ رَبَّكَ اَوۡحٰى لَهَا
5
karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) padanya.
Bagaimana bumi takut kepada Dan dia berdzikir dihadapan Allah sebagaimana dalam firman Allah swt
Surat An-Nur Ayat 41
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٍّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
*
Artinya:”Tidakkah engkau tahu bahwa kepada Allah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung-burung dengan mengembangkan sayapnya? Masing-masing sungguh telah mengetahui cara shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
Apa yang kita lihat dalam beberapa minggu lalu terjadi gempa dan getaran nya dia telah takut kepada Allah juga,karena itu jaga tauhid agar jangan takut selain dari Allah dan kita diciptakan naluri berpikir maka kita jauh sedikit dari rerentuhan gedung rumah ,tembok,dan serpisahan kaca ,namun kita harus kembalikan pada Allah swt dengan meminta ampun kepada Allah swt ,sebagaimana Rasullah bersabda riwayat Muslim nomor 2702 (serta diriwayatkan pula oleh Ahmad) adalah Sahih Muslim 2702a:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Artinya:
“Sesungguhnya kadang-kadang ada semacam bayangan/kelalaian di atas hatiku, dan aku memohon ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari”.
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa ketika menghadapi ujian atau takdir yang menyakitkan, seorang insan dapat mencapai derajat tertinggi—bukan hanya sekadar bersabar, melainkan bersyukur atas musibah tersebut.
Berikut adalah 4 alasan utama (nasihat) dari kitab tersebut mengapa seorang hamba yang beriman seyogianya bersyukur dan memuji Allah di tengah hantaman musibah:
1.
المُصِيبَةُ أَخَفُّ مِمَّا كَانَ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيْهِ
Terjemahannya :
Musibah Tersebut Masih Lebih Ringan dari yang Seharusnya
Setiap kali musibah duniawi menimpa, sadarilah bahwa Allah Yang Maha Kuasa sebenarnya mampu memberikan ujian yang jauh lebih berat dari itu. Jika kita kehilangan sebagian harta, Allah masih menyisakan kesehatan. Jika kita jatuh sakit, Allah masih memberikan kita nafas dan akal yang sehat. Hamba yang beriman bersyukur karena Allah menahan dampak musibah itu agar tidak menjadi lebih buruk.
Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Ibnul Qayyim, dan lainnya—sepakat bahwa musibah yang paling besar dan membawa kerugian hakiki adalah musibah yang menimpa agama (al-musibatu fid-din).
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
Secara umum, ujian atau bencana yang dihadapi manusia dapat dibagi menjadi dua kategori utama:
- Musibah Dunia (al-musibatu fid-dunya)
Musibah ini berkaitan dengan urusan material dan fisik di dunia. Contohnya meliputi:
- Kehilangan harta benda atau kemiskinan.
- Rasa sakit, wabah penyakit, atau cacat fisik.
- Kehilangan orang yang dicintai atau kematian keluarga.
Karakteristik: Meskipun terasa berat dan menyakitkan, musibah dunia sebenarnya bersifat ringan dan sementara. Jika dihadapi dengan rasa sabar dan rida, musibah ini justru menjadi bentuk kasih sayang Allah yang berfungsi menghapus dosa dan mengangkat derajat seorang hamba di akhirat.
- Musibah Agama (al-musibatu fid-din)
Musibah ini menyerang sisi spiritual, keimanan, dan hubungan seseorang dengan Allah. Contohnya meliputi:
- Terjerumus ke dalam kemaksiatan, syirik, atau bid’ah.
- Timbulnya penyakit hati seperti malas beribadah, hilangnya rasa takut kepada Allah, dan kesombongan.
- Ketidak sabaran yang berujung pada memprotes takdir atau berburuk sangka kepada Allah.
karena dampaknya merusak iman dan membawa kerugian abadi hingga akhirat. Sebaliknya, jika seseorang hanya ditimpa musibah dunia (kehilangan harta, sakit, atau musibah fisik), ia diajarkan untuk tetap bersyukur atas 4 hal berikut:
- Bersyukur karena musibah tersebut tidak lebih besar dari yang terjadi. Seberat apa pun kehilangan harta atau ujian fisik yang dialami, kondisinya selalu bisa lebih buruk (misalnya masih diberi keselamatan nyawa).
- Bersyukur karena dikaruniai kesabaran untuk menghadapinya. Kemampuan hati untuk tetap tenang dan menahan diri dari mengeluh merupakan taufik dan nikmat tersendiri yang Allah berikan kepada hamba-Nya.
- Bersyukur karena dibimbing untuk mengucapkan kalimat istirja’. Mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dengan tulus membuka pintu pahala tanpa batas dan ganti yang lebih baik dari Allah.
- Bersyukur karena musibah itu tidak menimpa agamanya. Ini adalah syukur yang paling utama. Selama iman, ketakwaan, dan ibadah seseorang tidak rusak atau goyah akibat ujian tersebut, maka kerugian yang dialami hanyalah bersifat sementara di dunia,maka Allah akan menjanjikan surga bagi seorang mukmin yang paling sabar dengan pahala disisi Allah
Sebagaimana dalam surat Al Baqorah 155 yang bunyi kurang lebih :
Al-Baqarah · Ayat 155
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
Terjemahan bahasa indonesianya
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar
Selanjutnya Allah melanjutkan ayat 156
Al-Baqarah · Ayat 156
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ۗ ١٥٦
Terjemahan bahasa indonesia nya :
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)
Maa’syiral Muslimin
rahimakumullah,
Dengan kalam Allah memberikan ganjaran bertaubat bagi orang-orang mukmin sebagaimana dalam firman Allah swt surat Al-Baqarah · Ayat 157
اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧
Terjemahan bahasa indonesianya yang artinya
Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
المصيبة لم تكن في دينك
Terjemahannya :
Musibah Tidak Menimpa Urusan Agama
Ini adalah poin yang paling krusial. Ibnu Qudamah menekankan bahwa musibah terbesar adalah musibah yang merusak agama seseorang (seperti hilangnya rasa takut berdosa, malas beribadah, atau goyahnya akidah). Selama musibah yang menimpa kita hanyalah urusan duniawi—seperti kehilangan materi, jabatan, atau kondisi fisik—maka itu adalah perkara kecil. Kita patut bersyukur karena iman dan islam di dalam dada masih dijaga utuh oleh Allah.
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
3
.الْعِقَابُ أَوْ الِابْتِلَاءُ يَكُونُ فِي الدُّنْيَا لَا فِي الْآخِرَةِ
Terjemahannya
Sifat Musibah Dunia Hanya Sementara, Bukan Azab Akhirat
Bencana atau penderitaan di dunia ini memiliki batas waktu dan pasti akan berakhir, sekadar menjadi ujian yang mempergilirkan kehidupan. Penderitaan dunia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pedihnya azab akhirat. Hamba yang beriman bersyukur karena Allah membersihkan dosa-dosanya melalui kepedihan yang sementara di dunia, sehingga ia terbebas dari tuntutan di akhirat kelak.
4.
المُصِيبَةُ تَحْمِلُ أَجْرًا عَظِيمًا قَدْ كُتِبَ فِي اللَّوْحِ المَحْفُوظِ
Arti dalam Bahasa Indonesia:
“Musibah itu membawa pahala yang besar yang telah tertulis (ditetapkan) di dalam Lauhulmahfuz.”
Di balik setiap goresan luka, kesedihan, dan kerugian materi yang dihadapi dengan sabar, Allah telah menjanjikan ganjaran pahala yang besar dan penghapusan dosa. Sesuai penuturan dalam kitab tersebut, pahala atas sabar menghadapi musibah ditinggikan beratus-ratus derajat. Hamba yang paham hakikat ini akan melihat musibah bukan sebagai bentuk kebencian Allah, melainkan sebagai “undangan terselubung” untuk meraih rida dan kedudukan tinggi di sisi-Nya.
Maa’syiral Muslimin rahimakumullah,
Demikianlah khutbah tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar dalam menghadapi berbagai masalah dan musibah yang sudah menjadi sunnatullah harus dihadapi oleh manusia. Semoga kita termasuk orang yang kuat dan sabar dalam menghadapi segala bentuk permasalahan dalam hidup dan semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi dan dicintai Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
