Abah Anom perpesan kepada Prof.Dr Abuya Hamka agar Fokus pada Tawajuh TQN
Sumba barat daya (Kodi) Nws.tvalqodi.Nusantara.com sabtu 24 oktober 2026 Buya Hamka: Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini mengakui dalam tulisan dan kesaksiannya bahwa beliau mengikuti tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Beliau juga menulis “Tasawuf Modern”, yang merupakan panduan tasawuf praktis untuk kehidupan sehari-hari.
HAMKA merupakan ringkasan dari nama lengkapnya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di desa Tanah Sirah, Sungai Batang, Maninjau, Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia, pada tanggal 16 Februari 1908, atau bertepatan dengan 13 Muharram 1326 H.
Siapa sangka mantan pemimpin Organisasi Islam Muhammadiyah – biasa disapa Buya Hamka – ternyata pengikut Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya. Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) pertama ini ditalqin oleh Pangersa Abah Anom, yaitu di sekitar awal tahun 1981. Menurut kesaksian H. Saleh Khan (ikhwan Singapura), ketika sedang berada di Suryalaya, bahwa Pangersa Abah menceritakan, ketika proses talqin hendak dilakukan, Buya Hamka dibawa masuk ke ruang keluarga dan ditutup pintunya. Hal ini dilakukan dalam rangka menghormati Buya Hamka sebagai ulama yang terhormat saat itu.
Sebab Buya Hamka masuk TQN, ketika sepulang dari Mekah dan datang ke Pondok Persantren Suryalaya (PPS) yang menurut penjelasannya karena mendapat petunjuk Baginda SAW. agar menjumpai seorang hamba Allah yang ikhlas. Ketika di Suryalaya, didapatinya seorang Mursyid yang sangat bersahaja: tidak berjubah, berserban, dan berjenggot, sebagaimana faham yang umum berkenaan dengan sunnah. Demikian juga para santrinya.
Maka Buya Hamka memohon izin untuk memperbaiki keadaan tersebut. Dikisahkan, selama 3 hari 3 malam, Buya Hamka asyik berceramah berbagai ilmu khasnya, yaitu tasauf, yang melingkupi sunnah dan adab. Berbagai hal yang dianggapnya tidak bersesuaian dengan sunnah disampaikan.
Sampailah masa perpisahan, dan ketika Buya Hamka hendak berpamitan pulang, Pangersa Abah memeluknya dan berkata: “Ucapan jutaan terima kasih atas banyak ilmu yang telah dicurahkan, tetapi Abah mohon agar Buya mau mengatakan kepada Abah, bagaimana mengamalkan semuanya itu. Abah sendiri juga tidak mampu, apatah lagi para santri. Mohon ditunjuki ya Buya“, demikian kurang lebih Pangersa Abah.
Ketika itu juga Buya Hamka tersadar, sehingga dia menangis terisak-isak dan berlutut di hadapan Pangersa Abah. Buya sadar, ilmu yang banyak tidaklah berguna bila tidak diamalkan. Kemudian Buya malah mintu ditunjukkan sebaik-baik amalan, sehingga akhirnya ditalqinkan kalimat yang tertinggi: La ilaha illa Allah.
Sebelum akhir hayat, Buya Hamka sempat berkunjung secara khusus kepada Pangersa Abah. Maka seminggu sebelum “masa” itu tiba, Pangersa telah memberikan pesan sebelum Buya pulang ke rumah, yaitu untuk menyelesaikan segara urusan wasiat kepada keluarga, dan kemudian agar memfokuskan pada tawajjuh dengan sepenuh hati, agar baik dan mulia di saat kembali kepada-Nya. Bahkan Pangersa Abah menyatakan, bahwa “masa” itu terjadi setelah sholat Jumat.
Adapun tokoh lain dari Muhamadiyah menjadi pengikut Tasawuf adalah
Berikut adalah tokoh-tokoh penting Muhammadiyah pengikut tasawuf:
KH Ahmad Dahlan (Pendiri): Mengamalkan tasawuf untuk penyucian jiwa yang seimbang dengan pemberdayaan masyarakat, terinspirasi oleh Imam Ghazali.
Buya Hamka: Menulis “Tasawuf Modern”, yang menekankan tasawuf yang fungsional di tengah kehidupan modern, aktif, dan sosial, bukan asketisme.
KH AR Fachruddin (Ketua Umum 1968-1990): Dikenal dengan kesederhanaan, ketaatan, dan ketabahan (ikhlas), mencerminkan tasawuf dalam sikap hidup sehari-hari.
KH Azhar Basyir (Ketua Umum 1990-1995): Menegaskan bahwa Muhammadiyah juga menganut tasawuf yang seimbang antara berzikir dan beraktivitas di dunia.
KH Abdurrahim Nur: Tokoh yang mengembangkan pemikiran tasawuf Muhammadiyah yang dinamis dan berorientasi pada kepatuhan penuh kepada Allah SWT.
KH Gusti Abdul Muis: Tokoh Muhammadiyah dari Kalimantan Selatan yang sangat tertarik dengan tasawuf Sunni dan mengutamakan kesederhanaan (tawadhu).
Refrensi 🫴https://bangkitmedia.com/dan beberapa media laintim redaksi)
