Belanda Membangun Fasilitas Rumah sakit dan Rumah Ibadah, Maupun fasilitas pendidikkan Di sumba Timur serta menyekolah Putra-putri sumba ke Yogjakarta
Sumba Timur-News.Tv.Al Qodi Nusantara.com jumat 18/9/2026 Pemerintah kolonial Belanda dan badan misi keagamaan (Zending/Missionaris)membangun fasilitas sekolah, rumah sakit, dan gereja di Hindia Belanda untuk mendukung kepentingan administrasi dan beberapa misi lain nya.
Pada 1927 M Belanda mendirikan fasilitas Rumah sakit di sumba Timur dan tahun dan 1920-1947 Belanda menyekolah Mina Radjah diyogjakarta,jadi hubungan pendidikkan antara belanda dan kesultanan Yogjakarta sudah sejak abad 15,16 hingga ke 19
Dalam beberapa refrensi awak media tentang sejarah Sinode GKS adalah representasi agama Protestan di Sumba, sebab mayoritas pemeluk agama ini bersekutu di bawah GKS, meskipun ada beberapa denominasi Protestan yang lain juga. Sinode GKS berulang tahun ke-75 pada tahun 2022 dan dirayakan setiap tanggal 15 Januari, mengacu pada sinode pertama yang digelar pada 15 Januari 1947. Kini Sinode GKS memiliki pemimpin baru seorang perempuan yakni, Pendeta Marlin Lomi, yang dipilih pada Sidang Sinode pada akhir Juli 2022 lalu di Waimangura, Sumba Barat Daya (SBD). Pendeta Marlin adalah pendeta perempuan pertama yang menjadi ketua sinode dalam sejarah GKS.
Meskipun demikian, sejarah masuknya agama Protestan ke Sumba sudah terjadi sejak satu setengah abad lampau. Setidaknya sejak Juli 1860 ketika Residen Brocx dari Kupang mengurus transmigrasi lokal 400 orang Sabu ke Waingapu. Di antara para transmigran ini ada yang sudah dibaptis menjadi Protestan. Maka orang Protestan pertama di Pulau Sumba adalah orang Sabu.
Pada masa Residen J.K. de Wit memerintah di Kupang pada 1872, di Sabu ada Pendeta Teffer. Ia segera mengirim seorang Guru Injil ke Melolo untuk melayani orang-orang Sabu yang sudah menjadi Kristen. Sementara itu jauh di Batavia, misi Katolik masih menjadi bahan omong-omong antara Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge dengan Mgr. Claessen, uskup untuk Gereja Katolik di Hindia Belanda, soal perencanaan akan mengirim misionaris ke Sumba.
Tanggal 9 Juni 1881 Pendeta J.J. van Alphen tiba di Waingapu. Ia mau bekerja di antara orang Sumba asli. Ia rupanya masuk ke Melolo (sebagai pusat zending ketika itu) dan mendapati kawasan ini aman-aman saja. Ia pulang ke Kupang untuk berunding dengan tuan residen. Dua bulan berselang, pada 5 September 1881, Pendeta Alphen sudah memboyong istrinya dan menetap di Melolo. Tapi ia bikin kesepakatan terlebih dahulu dengan Pdt. Teffer di Sabu: Orang Sumba ia yang layani, sementara orang Sabu tetap oleh tuan Teffer.(Tim redaksi)
