Jangan takut pada gempa takutlah kepada Allah,syekh ahmad nawawi Al Bantani,memberikan Nasiat 5 perkara dalam urusan getaran dunia

Sumba Barat Daya ,News.tv alqodi.Nusantara.com ,Jangan takut pada gempa takutlah kepada Allah,syekh ahmad nawawi Al Bantani,memberikan nasiat 5 perkara dalam urusan getaran dunia

oleh :Muhammad.Dominggus Mone Al amuhni,SHi.M.Pd.Gr

Jumat 9 Oktober 2026

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Pertama-tama marilah kita sama-sama panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. yang tak henti-hentinya melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Terutama nikmat taufiq dan hidayah-Nya sehingga pada kesempatan kali ini kita berada di tempat yang mulia ini untuk menunaikan shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu para nabi dan rasul sekaligus pelita kegelapan, yakni Nabi Besar Muhammad saw. Shalawat dan salam juga semoga terlimpah kepada para sahabatnya, para tabiin, para tabi’ tabiin, hingga kepada kita semua yang semoga diberi kekuatan mengikuti ajarannya, serta di akhirat kelak mendapatkan syafaatnya. Amin ya rabbal ’alamin.

Pada kesempatan kali ini, kami wasiatkan kepada diri kami juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Mari kita laksanakan segala perintah-perintah Allah subhanahu wata’ala, mari kita jauhi larangan-larangan-Nya. Mari tegakkan nilai-nilai Islam dalam setiap relung kehidupan dan aktivitas kita, mari kita jauhkan diri kita dan keluarga kita dari kemaksiatan, makanan haram, dan semua perbuatan yang mengundang murka dan azab Allah subhanahu wata’ala.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Takut kepada Makluk adalah syirik kecil dan gempa yang terjadi dipulau sumba dan Flores adalah ujian keimanan manusia ,akan tetapi manusia diberikan akal naluri untuk menghindar dari rerentuhan dan pecahan kaca karena kita diberi akal untuk berpikir,jangan kepada makluk,sekali pun malaikat maut datang tidak bisa mencabut seseorang kecuali kalau sudah diijin kan dan diperintahkan oleh Allah ,jangan gentar dengan gempa,jangan panik dengan gempa,jangan gelisah dengan gempa tapi takut karena kehilangan keimanan kita dalam dada,dan cari tempat yang aman untuk berdzikir sebanyak-banyak dihadapan Allah swt.

Ketika bumi bergetar (seperti saat gempa bumi), umat Islam dianjurkan untuk segera mengingat Allah SWT, memperbanyak dzikir, istighfar, dan doa.
Dalam ajaran Islam, fenomena alam dan seluruh makhluk di langit serta di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah SWT,

sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

Al-Isra’ · Ayat 44

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ۝٤
Terjemahannya :
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya yakni para malaikat, manusia, jin, dan makhluk lainnya baik yang berakal maupun yang tidak berakal senantiasa dan terus-menerus bertasbih kepada Allah dengan ucapan maupun keadaan yang menunjukkan kepatuhan dan ketundukan kepada hukum Allah. Dan tidak ada sesuatu pun dari mereka yang ada di langit dan di bumi melainkan bertasbih dengan memujiNya, dengan caranya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun kepada hamba-Nya yang berbuat dosa dan mau bertobat kepada-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Mengingat dari bencana yang terjadi jangan sampai kita berprasangka buruk pada Allah akan tetapi kita kembali intorspeksi diri agar selalu mengingat Allah ,jangan sampai kita takut selain dari karena Allah yang bisa mengjidupkan dan Allah pula yang bisa mematikan sebagaiamana dalam surat
QS. Al-Baqarah 2:28

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴿٢٨﴾
Terjemahannya :

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

Dari peristiwa tersebut Kita semua sepakat bahwa iman bukanlah sesuatu yang selalu berada pada satu titik yang sama. Iman itu fluktuatif, bisa naik dan bisa turun. Ada masa ketika hati terasa sangat dekat dengan amal kebaikan, namun di waktu lain, hati terasa berat untuk menjalankan ibadah. Kondisi naik-turun ini adalah sesuatu yang sangat manusiawi, dialami oleh setiap orang tanpa terkecuali.

Kesadaran bahwa iman bersifat dinamis itulah yang seharusnya membuat kita tidak mudah putus asa. Syekh Nawawi al-Bantani, dalam karnyanya Nashoihul Ibad, memberikan sebuah nasihat untuk selalu mengingat lima perkara ini;

Pertama :

اِنْشَغَلُوا بِالدُّنْيَا وَنَسُوا إِعْدَادَ زَادِ الْآخِرَةِ
Terjemahan nya
Sibuk dunia dan lupa menyiapkan bekal akhirat

Banyak orang larut dalam rutinitas dunia, pekerjaan, gawai, hiburan, dan urusan rumah tangga hingga melalaikan amal sebagai bekal akhirat. Padahal, Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an surah Surah Al-Asr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran. Kesibukan dunia seharusnya tidak menghapus prioritas akhirat, karena hidup hanyalah persinggahan singkat,Rasullah memberikan nasiatnya,Sebagaimana sabda rasullah

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Terjemahan nya:

“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai ambisinya (tujuan utamanya), maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, memudahkan (mengumpulkan) urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina (tunduk).” (HR. At-Tirmidzi, Shahih)

hadits diatas menurut Ulama menjelaskan bahwa kekayaan yang dimaksud bukanlah kelimpahan harta benda secara fisik, melainkan hati yang selalu merasa cukup (qanaah), kaya jiwa, tidak tamak, dan tidak selalu merasa kurang.,Orang yang hatinya kaya tidak akan diperbudak oleh harta; ia merasa bahagia dan puas dengan apa pun rezeki yang Allah berikan.Dan akan memudahkan urusan dunia Allah akan menyatukan dan membereskan orientasi hidupnya yang sebelumnya tercerai-berai. Hatinya tidak lagi gelisah memikirkan urusan dunia yang tidak ada habisnya.dan dunia tunduk terhina dalam hal ini akan datang kepada hamba tersebut tanpa ia harus membanting tulang dengan cara yang melupakan akhirat, dan dunia tersebut hadir dalam keadaan rendah atau tidak memperbudak dirinya.

Hadirin Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Kedua :
تَزَيَّنُوا دَارَ الدُّنْيَا وَلَا تَنْسَوْا سِرَاجَ الْقَبْرِ
Terjemahannya

Menghiasi dunia jangan lupa lentera kubur

Ungkapan ini mengandung pesan mendalam tentang keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, dengan rincian sebagai berikut:

-Menghiasi Rumah Dunia (تَزَيَّنُوا دَارَ الدُّنْيَا):
Islam tidak melarang manusia untuk menikmati fasilitas dunia, mencari rezeki, membangun rumah yang nyaman, atau merawat diri dan keluarganya. Hal ini merupakan bagian dari fitrah manusia dan diperbolehkan selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak berlebihan.

-Jangan Lupakan Lentera Kubur (وَلَا تَنْسَوْا سِرَاجَ الْقَبْرِ):
Ketika seseorang meninggal dunia dan masuk ke alam kubur, kondisi di sana digambarkan gelap gulita. Rumah megah dan harta benda yang dikumpulkan di dunia tidak akan ikut dibawa ke dalam liang lahat. Satu-satunya yang bisa menjadi “lentera” atau penerang di alam kubur adalah amal saleh yang dikerjakan selama hidup di dunia.

Ketiga
الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ

Artinya: “Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”

tidak hanya berbicara tentang kepemilikan uang atau emas secara lahiriah, melainkan menyoroti penyakit hati (maradh al-qalb) yang membuat jiwa manusia tertutup dari Allah SWT:

  • Penyakit Hubb ad-Dunya (Cinta Dunia yang Berlebihan):
    Mengumpulkan harta diartikan sebagai keterikatan hati yang terlalu dalam kepada segala sesuatu selain Allah (siwa Allah). Ketika hati disibukkan oleh materi, ruang bagi cinta kepada Sang Pencipta menjadi sempit atau hilang.
  • Ilusi Keberlanjutan (Al-Amal ath-Thawil):
    Menghitung-hitung harta (‘addadahu) mencerminkan mentalitas seorang salik (penempuh jalan ruhani) yang salah arah; ia merasa aman dan tenang oleh angka-angka dunia, seakan-akan hitungan materi itu bisa melindungi dirinya dari kematian dan kehampaan spiritual.

Hadirin. Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Keempat
جَاهِدْ نَفْسَكَ لِتَنَالَ رِضَا اللهِ
Terjemahannya
Kendalikan nafsu agar dapat ridhollah

Kalimat ini merupakan sebuah nasihat spiritual atau ungkapan kebijaksanaan (mahfudzot) dalam tradisi Islam yang sangat mendalam. Ada dua poin utama dalam kalimat ini:

  • Jihad Akbar (Melawan Hawa Nafsu): Kata jāhid nafsak merujuk pada konsep jihadun nafs. Ini adalah perjuangan batiniah seseorang untuk mengendalikan keinginan buruk, kemalasan, ego, kesombongan, dan sifat tercela lainnya yang ada di dalam diri. Musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan egonya sendiri.
  • Tujuan Tertinggi (Rida Allah): Kalimat litanāla ridhōllāh menegaskan tujuan akhir dari segala perjuangan hidup seorang Muslim. Keberhasilan menaklukkan ego dan hawa nafsu bukanlah untuk dipuji manusia atau mendapatkan kebanggaan duniawi, melainkan semata-mata demi mencapai cinta dan keridaan Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah Asy-Syams · Ayat 9-10

دْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا ۖ ۝٩
qad aflaḫa man zakkâhâ

sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)

Ayat 10:
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

HadirinJamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Kelima
حُبُّ الْعَائِلَةِ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ

secara bahasa berarti: “Mencintai keluarga adalah pintu menuju surga”.

Meskipun kalimat ini lebih populer sebagai kata-kata mutiara (mahfudzot) atau ungkapan kebijaksanaan Islam (bukan teks hadis syar’i yang kaku), maknanya sangat selaras dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam tentang pentingnya keluarga.

kendalikan nafsu agar mendapat ridha ilahi. Peringatan kelima ini seperti rem cerdas pada mobil laju, mencegah tabrakan sebelum terlambat. Kita sering mengikuti kehendak diri sendiri (nafsu) tanpa ragu. Akibatnya, kita lalai terhadap perintah sederhana dari Allah.

Akhir kata, semoga kita senantiasa mendapat petunjuk dan pertolongan, sehingga mampu memenuhi kewajiban menghambakan diri kepada Allah, tetap Iman dan Islam sampai akhir hayat, khusnul khatimah.

:أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *